Sabtu, 02 Januari 2010

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan menurut Sistem Kesehatan Nasional (SKN), adalah tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk yang ditandai dengan bertempat tinggal di lingkungan bersih dan berperilaku hidup sehat dan masyarakat mampu untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 2000).
Derajat kesehatan masyarakat ditentukan dari berbagai indikator upaya-upaya yang diambil untuk tujuan tersebut salah satunya adalah peningkatan gizi masyarakat. Empat masalah gizi utama di Indonesia adalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB) Kurang Vitamin A (KVA), Kurang Energi Protein (KEP). Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh penderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama (Depkes RI, 2000) .
Gangguan akibat kekurangan Yodium sangat berdampak secara langsung mempengaruhi kualitas sumber daya manusia, tingkat kecerdasan dan sosial ekonomi, dampak secara tidak langsung dipengaruhi oleh jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, pola asuh anak kurang memadai, kurang baiknya kondisi sanitasi lingkungan serta rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Pokok masalah masyarakat adalah rendahnya pendidikan, pengetahuan, ketrampilan serta tingkat pendapatan masyarakat. Sebagian besar dari penderita GAKY adalah juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang pola konsumsi garam yang beryodium serta cara penggunaan dan penyajian garam yang baik dan benar sebelum dikonsumsi (Depkes RI, 2000).
Adapun upaya penanggulangan akibat kekurangan yodium melalui peningkatan cakupan suplemen kapsul minyak beryodium 200 mg yang didistribusikan di sarana kesehatan dikonsumsi WUS 2 kapsul/tahun Depkes RI (2000). Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan akibat kekurangan yodium. Dari beberapa kepustakaan ternyata bahwa faktor pengetahuan mempengaruhi status gizi sehingga dapat terjadi gangguan akibat kekurangan yodium Depkes RI (1997). Faktor internal yang diduga dapat dipengaruhi antara lain : faktor pengetahuan ibu terhadap kesehatan. Aspek ini dipandang penting karena biasanya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap kemampuannya untuk bersikap dan mengambil keputusan penting dalam berbagai aspek kehidupan, terutama kesehatan keluarganya (Notoatmodjo,1993).
Pada anak-anak yang kekurangan yodium kemungkinan lahir dari wanita usia subur yang kekurangan yodium. Anak-anak yang lahir dengan kekurangan yodium akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan fisik dan kecerdasannya Robins & Vinary (1995). Hal ini sangat berpengaruh terhadap pembangunan bangsa Indonesia yang saat ini dititik beratkan pada peningkatan sumber daya manusia.
Dari data di Wilayah Puskesmas Anggrek, selang tahun 2006 sampai dengan 2008 terdapat 63 orang wanita usia subur yang teridentifikasi menderita gangguan akibat kekurangan yodium (2%) dari 2784 WUS yang ada di wilayah Puskesmas Anggrek.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa tertarik mengambil judul "Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (Gondok)"
B. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Adakah hubungan tingkat pendidikan, pengetahuan, penggunaan garam beryodium dan kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok) di wilayah Puskesmas Anggrek Kabupaten Gorontalo utara ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium(Gondok).
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan gangguan akibat kekurangan yodium(Gondok)
b. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok).
c. Untuk mengetahui hubungan penggunaan garam beryodium dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok).
d. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan konsumsi makanan goiterogenik dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok)
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi
Dapat memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan yang memberikan acuan bagi Petugas Kesehatan khususnya tentang gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok).
2. Bagi Peneliti
Dapat memberikan kontribusi pada pengembangan penelitian bidang Kesehatan terutama faktor yang berpengaruh terhadap pemberian penyuluhan khususnya pada penderita gangguan akibat kekurangan Yodium (Gondok).
3. Bagi Tempat Penelitian
Dapat memberi masukan bagi tenaga kesehatan di Puskesmas¬ Anggrek dalam menanggulangi risiko gangguan akibat kekurangan yodiu (Gondok).





BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1. Konsep Dasar tentang Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini taraf setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 1993).
Pengetahuan akan membentuk kepercayaan yang selanjutnya memberikan perspektif pada manusia dalam mempersiapkan kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap objek tertentu. Pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki seseorang (Rahmat, 1998).
b. Tingkat Pengetahuan
Notoatmodjo (1993), ada enam tingkatan pengetahuan, yaitu :
1). Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2). Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk rnenjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi¬kan materi tersebut secara benar.
3). Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4). Analisis (Analysis)
Analisis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu dengan yang lain.
5). Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6). Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dan subjek penelitian atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut (Notoatmodjo, 1993).
2. Konsep Pendidikan
Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Konsep ini berangkat dari asumsi bahwa manusia sebagai mahluk sosial dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-¬nilai hidup di dalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai kelebihan (lebih dewasa, lebih pandai, lebih mampu, lebih tahu). Dalam mencapai tujuan tersebut, seorang individu, kelompok atau masyarakat tidak terlepas dari kegiatan belajar.
Pendidikan menurut ensiklopedia pendidikan (1979) dapat diartikan sebagai semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan serta ketrampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.
Menurut bentuknya ada 3 jenis pendidikan yang sama-sama mempunyai kepentingan dan memberkan manfaat sendiri dibagi tiga jenis:
a. Pendidikan formal dengan tingkatan pendidikan dari SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi.
b. Pendidikan informal.
c. Pendidikan non formal
Pendidikan merupakan proses perubahan tingkah laku melalui upaya pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam mencapai kehidupan dan kepribadian yang mantap.
3. Konsep Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
a. GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh penderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama.
Terjadinya kekurangan unsur yodium terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dimana tanah serta air di suatu daerah amat miskin unsur tersebut (Depkes RI, 2000).
Gondok endemik merupakan reaksi adaptasi terhadap kekurangan yodium di dalam tubuh. Disebut endemik bila prevalensinya lebih dari 10% populasi (Arisman, 2001).
b. Etiologi dan Patogenesis
Beberapa keadaan yang sering dihubungkan dengan gondok endemik, yaitu :
1). Defisiensi Yodium
Defisiensi yodium merupakan sebab pokok terjadinya gondok endemik dimana-mana. Dengan dasar perhitungan PII (Plasma lnorganik Iodine) kebutuhan ini diduga antara 100-200 µg1.
2) Faktor Goitrogen
Goitrogen adalah zat/bahan yang dapat mengganggu hormogenesis tiroid sehingga dapat membesarkan kelenjar gondok. Bahan goitrogen antara lain : cyanogenik glucoside (tiosianat), glukosinolat, sulphurated hydrocarbon. Kedua zat yang pertama (cyanogenik glukoside dan glukosinolat) terdapat pada beberapa tumbuhan, yakni : kubis, singkong. Akan tetapi belum jelas bahwa makanan atau zat yang ada pada binatang berpotensi bersifat goitrogen akan bertindak sebagai penyebab gondok pada manusia.
3) Faktor Trace Elements
Artinya dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam jumlah kecil tetapi mempunyai fungsi khusus.
4) Faktor Nutrisi
Mekanisme terjadinya adalah sebagai berikut, kekurangan. yodium menghambat pembentukan hormon tyroid oleh kelenjar tyroid dan akibatnya tidak terdapat hormon yang menghambat pembentukan TSH oleh hipofisis anterior, hal ini memungkinkan hipofisis mensekresi TSH dalam jumlah besar. Kemudian TSH menyebabkan set-set tyroid mensekresi tiroglobulin dalam jumlah besar ke dalam folikel dan kelenjar tubuh makin lama makin besar.
5) Faktor Genetik
c. Manifestasi Klinik
Akibat kekurangan yodium maka terjadi pembesaran kelenjar gondok. Pada tingkat yang ringan hanya memberi dampak kosmetik, tetapi gondok yang besar dapat menimbulkan keluhan sesak napas. kesulitan menelan, meningkatnya frekuensi denyut jantung dan merasa cepat lelah. Pada tingkat yang lebih berat lagi, akan lahir bayi-bayi kreatin dengan kelainan yang bersifat menetap. Pada wanita usia subur gondok dapat menyebabkan gangguan kesuburan dan kehamilan berupa abortus (Noer,1997).
Wanita usia subur adalah wanita usia 15-49 tahun dan tidak hamil. Sasaran kapsul minyak beryodium yaitu untuk WUS, ibu hamil dan ibu meneteki yang tinggal di daerah GAKY berat dan sedang.










Tabel 2.1
Spektrum gangguan akibat kekurangan yodium
Tahap perkembangan Bentuk gangguan
Janin Keguguran (aborsi)
Lahir mati
Kelainan kongenital
Kematian perinatal
Kematian bayi
Kreatinisme saraf
Kreatinisme miksedema
Kerusakan psikomotor
Bayi baru lahir Gondok neonatus
Hipotiroidisme neonatus
Anak dan keluarga Gondok
Hiptiroidisme juvenile
Fungsi mental
Perkembangan fisik terhambat.
Dewasa Gondok dan penyakit
Hipotiroidisme
Fungsi mental
Hipertiroidisme diimbas oleh yodium

Semua usia Kepekaan terhadap radiasi nuklir
Meningkat




d. Diagnosa
Beberapa cara yang digunakan dalam mendiagnosa adanya goiter pada seseorang, yakni (Noer, 1997).
1). Pemeriksaan fisik
a) Orang (sampel) yang diperiksa berdiri tegak atau duduk menghadap pemeriksa.
b) Pemeriksa melalukan pengamatan pada bagian leher sampel
terutama pada lokasi kelenjar gondoknya.
c) Amatilah apakah sampel menderita gondok yang tanmpak nyata (tingkat II dan III).
d) Bila langkah ke-3 negatif, pemeriksa menyuruh sampel menengadah dan menelan ludah. Pada gerakan menelan kelenjar akan ikut terangkat ke atas.
e) Pemeriksa berdiri di beiakang orang yang diperiksa kernudian pemeriksa meletakkan dua jari tengahnya pada rnasing-masing lobus kelenjar gondok. Selanjutnya sampel disuruh menelan.
f) Kemudian pemeriksa mendiagnosa sampel apakah menderita gondok atau tidak. Jika salah satu atau kedua lobus kelenjar lebih kecil dari ruas terakhir ibu jari berarti normal. Jika salah satu kelenjar atau lobus ternyata lebih besar dari ruas terakhir ibu jari sampel berarti menderita gondok.

Pembesaran kelenjar gondok berdasarkan modifikasi Perez, yaitu :
Grade 0 :
 Tidak ada pembesaran kelenjar
Grade IA :
 Pembesaran tidak nampak walaupun leher pada posisi tengadah maksimum
 Pembesaran kelenjar teraba ketika dipalpasi
Grade IB :
 Pembesaran terlihat jika leher pada posisi tengadah maksimum
 Pembesaran kelenjar teraba jelas ketika dipalpasi
Grade II :
 Mudah terlihat pada posisi kepala biasa dan terlihat dari jarak 1 meter, palpasi tidak diperlukan untuk diagnosa.
Grade III :
 Pembesaran kelanjar gondok tampak nyata dari jarak jauh (5-6) meter.
2). Pemeriksaan laboratorium EYU (Ekskresi Yodium Urin) Pada gondok endemik didapatkan kadar yodium dalam urin kurang dari 50 µg/gr kreatinin. Dengan pemeriksaan EYU., maka. Pan Amerika Health Organization Scientific Group (PAHO) pada tahun 1973 membangi derajat endemia gondok berdasarkan median EYU.
Tabel 2.2
Derajat Endemia Gondok Berdasarkan Median EYU
Derajat Endemia Median EYU (µgl/gr kreatinin)

Derajat I Endemia gondok dengan EYU rata-rata lebih dari
Derajat 11 50 µql/gr kreatinin
Endemia gondok dengan EYU rata-rata antara. 25¬
Derajat III 50 µql/gr kreatinin.
Endemia gondok dengan EYU rata-rata kurang dari
25 µql/gr kreatinin.

Berat ringannya endemisitas suatu daerah ditentukan dengan angka prevalensi dan eksresi yodium dalam urin dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.3
Derajat Endemia Gondok Berdasarkan Prevalensi dan EYU
Derajat Endemia Prevalensi Median EYU
Derajat 1
Endemia ringan 10-20% > 50 µql/gr kreatinin
Derajat II
Endernia sedang 21-30% 25 - 50 µql/gr kreatinin
Derajat III
Endemia berat > 30% > 25 µql/gr kreatinin





e. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan merupakan upaya prioritas terutama di daerah kantong-kantong gondok endemik. Dalam pelaksanaannya ada beberapa program, yaitu : edukasi, penyuntikan lipiodol, iodisasi gararn, rote beniodium, pil KI, iodisasi air minum, dan pemberian kapsul minyak beryodium (Arisman. 2001).
GAKY derajat ringan, dapat dikoreksi dengan pemberian garam beryodium sebanyak 10-25 mg/kg. GAKY ringan ini biasanya akan lenyap dengan sendirinya jika masyarakat memahami, mengetahui tentang pengobatan yang dianjurkan (Arisman, 2001 ).
Dosis pemberian kapsul minyak beryodium.
Kapsul minyak beryodium 200 mg diberikan kepada kelompok sasaran dengan dosis sebagai berikut :

• Wanita usia subur : 2 kapsul/tahun
• Ibu hamil : 1 kapsul/masa hamil
• Ibu meneteki : 1 kapsul/selama masa nifas
• Anak SD : I Kapsul / tahun
Kebutuhan minyak beryodium hanya diberikan 1 kali dalam 1 tahun (Depkes RI. 2000).
Dalam Pelita V, penanggulangan GAKY di Indonesia meliputi 2 kegiatan, sebagai berikut : (Kartono, 1997).¬
1). Jangka panjang, yaitu : iodisasi garam (sejak tahun 1977), iodisasi air minum (masih terbatas di beberapa provinsi).
2). Jangka pendek, yaitu : pemberian kapsul minyak beriodiun terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat, dan cara ini merupakan pengganti penyuntikan lipiodol yang telah dilaksanakan sejak tahun 1974. Pemberian kapsul ini mulai tahun 1992-199
B. Kerangka Berpikir
Dalam meneliti Faktor-faktor yang berhubungan tingkat pendidikan, pengetahuan, Penggunaan Garam Beryodium dan Kebiasaan Mengkonsumsi bahan goiterogenik dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium di wilayah Puskesmas Anggrek maka kerangka berpikir dapat divisualisasikan sebagai berikut :

Ringan

Sedang

Berat
Keterangan :
= Variable Independent (bebas)
= Variable Dependent (terikat)
Variabel Penelitian
Adapun Variabel yang diteliti adalah :
1. Variabel Bebas (Independent) adalah variabel yang dapat memberikan pengaruh terhadap variabel terikat dalam hal ini menjadi variabel bebas adalah pendidikan, pengetahuan, penggunaan garam beryodium dan kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik
2. Variabel Terikat (Dependent) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas dalam hal ini variabel terikat adalah gangguan akibat kekurangan yodium.
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara dari masalah yang diteliti.
1. Hipotesis Nol (H0)
a. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok).
b. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok).
c. Tidak ada hubungan antara penggunaan garam beryodium dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok).
d. Tidak ada hubungan antara kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok).
2. Hipotesis alternatif (Ha)
a. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok).
b. Ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian gangguan kekurangan yodium (Gondok).
c. Ada hubungan antara penggunaan garam beryodium dengan kejadian gangguan kekurangan yodium (Gondok).
d. Ada hubungan antara kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik dengan kejadian gangguan kekurangan yodium (Gondok).















BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Anggrek Kab. Gorontalo Utara dimulai Bulan 8 April sampai dengan 15 Mei 2009.
B. Bahan dan Alat
1. Instrumen Penelitian
a. kuesioner daftar pertanyaan yang disusun dengan baik , dimana responden tinggal memberikan jawaban atau tanda-tanda tertentu.
b. Alat tulis menulis, komputer, dan kalkulator.
c. Buku panduan
C. Jenis dan Disain Penelitian
Jenis penelitian digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional study yaitu suatu rancangan yang mempelajari dinamika korelasi antara faktor risiko dengan efek dengan cara pendekatan, obsevasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi dalam penelitian adalah keseluruhan wanita usia subur yang menderita gangguan akibat kekurangan yodium di wilayah Puskesmas Anggrek Kabupaten Gorontalo utara.
2. Sampel dalam penelitian ini. Dengan cara pengambilan sampel dilakukan secara systematis sampling .
E. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Agar diperoleh kesamaan pengertian dalam penelitian ini maka dibuat batasan-batasan sebagai berikut :
1. Pendidikan dalam penelitian ini adalah jenjang pendidikan terakhir secara formal yang pernah diikuti responden dengan ijazah yang dimiliki.
Kriteria Objektif :
Tinggi : Bila pendidikan SLTP ke atas
Rendah : Bila pendidikan SD ke bawah
2. Pengetahuan, yang dimaksud dengan pengetahuan dalam penelitian ini adalah jenjang tahunya responden mengenai gangguan akibat kekurangan yodium.
Kriteria :
Benar : diberi skor 1
Salah : diberi skor 0
Dan untuk mendapatkan tingkat/ katagori pengetahuan responden dilakukan penjumlahan skor/ nilai dari jawaban responden
1. Bila jumlah skor ≥ 10 benar kategori baik
2. Jika jumlah skor < 10 benar kategori kurang
3. Penggunaan garam beryodium, yang dimaksud dengan penggunaan garam beryodium yaitu cara penggunaan garam beryodium dalam pengolahan makanan sehari-hari.


Kriteria :
Ya : diberi skor 1
Tidak : diberi skor 0
Dan untuk mendapatkan kategori penggunaan garam beryodium responden dilakukan penjumlahan skor/ nilai dari jawaban responden
1. Bila jumlah skor ≥ 50 % kategori baik
2. Jika jumlah skor < 50 % kategori tidak baik
4. Kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik, yang dimaksud dengan kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik yaitu kebiasaan responden menkonsumsi bahan goiterogenik dalam penyajian makanan sehari-hari.
Kriteria :
Ya : diberi skor 1
Tidak : diberi skor 0
Dan untuk mendapatkan kategori kebiasaan responden mengkonsumsi bahan goiterogenik dilakukan penjumlahan skor/nilai dari jawaban responden
1. Bila jumlah skor ≥ 50 % kategori jarang
2. Jika jumlah skor < 50 % kategori sering
5. Gangguan akibat kekurangan yodium, sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh penderita kekurangan yodium secara terus menurus dalam waktu yang lama dengan kriteria objektif.
Terjadi : bila terdapat tanda dan gejala pembesaran kelenjar gondok
Tidak terjadi : bila tidak terdapat tanda dan gejala pembesaran kelenjar gondok
4. Wanita usia subur adalah wanita usia 15-49 tahun dan tidak hamil.
F. Teknik Pengumpulan Data
1. Jenis Data
a. Data Primer
Data yang dikumpulkan langsung dari responden melalui Kuesioner.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari Puskesmas Anggrek, Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara.
G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data.
1. Teknik Pengolahan Data.
a. Editing
Yaitu : memeriksa kelengkapan, keseimbangan dan keseragaman pengisian kuisioner dan mengklasifikasikan data-data tersebut sesuai dengan kategori masing-masing.
b. Coding
Yaitu : Memberi kode pada masing-masing jawaban agar data-data tersebut mudah ditabulasi.
c. Menghitung Frekuensi
Yaitu : Setelah diberi kode dihitung besarnya frekuensi masing-masing data.
d. Tabulasi Data
Yaitu : Mengelompokkan data dalam bentuk tabel dan narasi menurut sifat masing-masing sehingga dapat ditarik kesimpulan.
2. Analisis Data
a. Analisis data dilakukan dengan manual melalui pengisian kuesioner, sebelum data dianalisis terlebih dahulu diklasifikasikan kemudian ditabulasi diolah dalam tabel distribusi frekuensi.
Analisis tabel distribusi, frekuensi dan tabel silang. Data dimasukkandalam tabel serta prosentasi selanjutnya dilakukan analisis statistik.
b. Analisis Statistik
Data yang sudah diolah dianalisis secara statistik dengan uji Chi Square untuk menguji hipotesis nol dengan rumus :

χ2 = ∑ (0 – E)2
E
Dimana :
χ2 = Kai Kuadrat
O = Frekuensi Obsevasi (Nilai Observasi)
E = Frekuensi yang diharapkan
∑ = Jumlah
(Notoatmodjo, 2002).
Penilaian :
1.) Dianggap ada hubungan bila χ2 hitung lebih besar dari χ2 tabel
2.) Dinyatakan tidak ada hubungan bila χ2 hitung kurang dari χ2 tabel
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Analisis Deskriptif
Tabel 4.1
Gambaran Kejadian GAKY (Gondok) Berdasarkan Umur
di Kecamatan Anggrek Tahun 2009.
Umur (tahun) Kejadian Gondok Jumlah
Ya Tidak
n % n % n %
15-25 100
26-40 100
41-64 100
≥ 65 100
Total 100

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa distribusi umur yang paling banyak berada pada rentang umur 41-64 tahun dengan jumlah 0 responden, dan yang terjadi gondok sebanyak 0 responden (0%), sedangkan yang tidak terjadi berjumlah 0 responden (0%), distribusi pada rentang umur 26-40 sebanyak 0 responden, dan yang terjadi gondok berjumlah 0 responden (0%), sedangkan yang tidak terjadi sebanyak 0 responden (0%), distribusi pada rentang umur ≥ 65 tahun sebanyak 0 responden, dan yang terjadi gondok berjumlah 0 responden (0%), sedangkan yang tidak terjadi berjumlah 0 responden (0%), dan distribusi umur yang paling sedikit berada pada rentang umur 15-25 tahun dengan jumlah 0 responden.
2. Analisis Hubungan
Untuk melihat apakah ada hubungan antara Pendidikan, Pengetahuan, penggunaan Garam Beryodium dan Kebiasaan Mengkonsumsi Bahan Goitrogenik dengan kejadian Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (Gondok) adalah sebagai berikut :
Tabel 4.2
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kejadian GAKY (Gondok) di wilayah Kerja Puskesmas Anggrek

Pendidikan Kejadian Gondok Jumlah χ2 p
Ya Tidak
n % n % n %
Tinggi 100
Rendah 100
Total 100


Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa pendidikan tinggi yang terjadi GAKY berjumlah 0 responden (0%), sedangkan pendidikan rendah yang terjadi GAKY berjumlah 63 responden (45,3%), sedangkan responden yang pendidikanya rendah yang tidak terjadi berjumlah 58 responden (41,7%), dan responden yang pendidikanya rendah yang tidak terjadi GAKY berjumlah 58 responden (41,7%). Total responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 18 responden (12,9%), dan responden yang berpendidikan rendah sebanyak 121 responden (87,1%). Sedangkan total responden yang terjadi GAKY 63 responden (45,3%) dan yang tidak terjadi 76 responden (54,7%).
Tabel 4.3
Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian GAKY (Gondok) di wilayah Kerja Puskesmas Anggrek

Pendidikan Kejadian Gondok Jumlah χ2 p
Ya Tidak
n % n % n %
Kurang 100
Baik 100
Total 100

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa pengetahuan baik yang terjadi GAKY berjumlah 21 responden (15,1%), sedangkan pengetahuan kurang yang terjadi GAKY berjumlah 42 responden (30,2%), sedangkan responden yang pengetahuanya baik yang tidak terjadi berjumlah 22 responden (15,8%), dan responden yang pengetahuanya kurang yang tidak terjadi berjumlah 42 responden (30,2%). Total responden yang berpengetahuan baik sebanyak 43 responden (30,9%), dan responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 96 responden (69,1%). Sedangkan total responden yang terjadi GAKY 63 responden (45,3%) dan yang tidak terjadi GAKY 76 responden (54,7%).
Tabel 4.4
Hubungan penggunaan Garam Beryodium dengan GAKY (Gondok)
di wilayah Puskesmas Anggrek

Penggunaan Garam Beryodium Kejadian Gondok Jumlah χ2 p
Ya Tidak
n % n % n %
Tidak Baik 100
Baik 100
Total 100

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa penggunaan garam beryodium yang baik tetapi terjadi GAKY berjumlah 8 responden (5,8%), sedangkan penggunaan garam beryodium yang tidak baik yang terjadi GAKY berjumlah 55 responden (39,6%), sedangkan responden yang penggunaan garam beryodium yang baik dan tidak terjadi GAKY berjumlah 25 responden (18,0%), dan responden yang penggunaan garam beryodium yang tidak baik yang tidak terjadi berjumlah 51 responden (36,7%). Total responden yang menggunakan garam beryodium yang baik sebanyak 33 responden (23,7%), dan responden yang menggunakan garam beryodium yang tidak baik sebanyak 106 responden (76,3%). Sedangkan total responden yang terjadi GAKY 63 responden (45,3%) dan yang tidak terjadi 76 responden (54,7%).
Tabel 4.5
Hubungan Kebiasaan Mengkonsumsi Bahan Goitrogenik dengan Kejadian GAKY (Gondok)

Kebiasaan Mengkonsumsi bahan Goiterogenik Kejadian Gondok Jumlah χ2 p
Ya Tidak
n % n % n %
Sering 100
Jarang 100
Total 100

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa kebiasaan mengkonsumsi bahan goiterogenik yang jarang yang terjadi GAKY berjumlah 0 responden (0%), sedangkan kebiasaan mengkonsumsi bahan goiterogenik yang sering dan terjadi GAKY berjumlah 63 responden (45,3%), sedangkan responden yang kebiasaan mengkonsumsi bahan goiterogenik yang jarang yang tidak terjadi berjumlah 26 responden (18,7%), dan responden yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi bahan goiterogenik yang sering dan tidak terjadi berjumlah 50 responden (36,0%). Total responden yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi bahan goiterogenik yang jarang sebanyak 26 responden (18,7%), dan responden yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi bahan goiterogenik yang sering sebanyak 113 responden (81,3%). Sedangkan total responden yang terjadi GAKY 63 responden (45,3%) dan yang tidak terjadi 76 responden (54,7%).
B. PEMBAHASAN
1. Pendidikan
Dari hasil analisa deskriptif pada distribusi frekuensi tingkat pendidikan menunjukkan 89 responden (64,2%) dan 32 responden (23,02%) dikatagorikan berpendidikan rendah yaitu pendidikan SD dan SLTP sedang 18 responden (12,9%) dikatagorikan berpendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan tingkat pendidikan yang rendah sehingga kemampuan berpikir secara positif kurang, menyebabkan kemampuan secara objektif juga kurang sehingga responden tidak tahu mempertahankan kehidupan yang sehat yang dapat dilihat dengan adanya responden yang mengalami Gangguan Akibat Kekurangan Yodium.
Disamping itu terdapat hanya sebahagian kecil responden yang mempunyai pendidikan tinggi, dimana diharapkan dengan pendidikan yang tinggi responden mempunyai kemampuan berpikir yang positif tentang bagaimana memperoleh dan mempertahankan kehidupan yang sehat. Sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (1993) bahwa pendidikan merupakan proses perubahan tingkah laku melalui upaya pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam mencapai kehidupan dan kepribadian yang mantap.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji χ2, diperoleh hasil χ2 hitung = 17,141 dan χ2 tabel = 3,84, berarti χ2 hitung > χ2 tabel dengan demikian Ho ditolak Ha diterima, sehingga dapat dinyatakan ada hubungan antara pendidikan denghan kejadian GAKY diwilayah Puskesmas Anggrek.
2. Pengetahuan
Data pengetahuan yang diperoleh dari 139 responden terdapat 96 responden (69,06%) berpengetahuan kurang dan 43 responden (30,94%) berpengetahuan baik.
Dari data tersebut sebagian responden memiliki pengetahuan kurang sehingga berpotensi terjadinya GAKY. Disamping itu ada sebagian responden yang mempunyai pengetahuan yang baik, hal ini sesuai dengan apa yang diharapkan dimana dengan pengetahuan yang baik dapat mengantisipasi terjadinya GAKY.
Rahman J. (1998) berpendapat bahwa pengetahuan akan membentuk kepercayaan yang selanjutnya dapat memberikan perspektif pada manusia dalam mempersiapkan kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap objek tertentu. Pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki seseorang.
Hasil penelitian responden yang termasuk pengetahuan kurang, tidak mempunyai wawasan serta pemahaman gizi khususnya tentang GAKY yang mereka derita, juga tidak mampu memberikan jawaban yang baik, waktu yang digunakan dalam pengisian angket juga lebih lama, dibandingkan dengan responden yang berpengetahuan baik.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji χ2 = 0,310 dan χ2 tabel = 3,84, berarti χ2 hitung < χ2 tabel dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat dinyatakan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian GAKY(Gondok) diwilayah Puskesmas Anggrek.
Hasil dan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa sangat dibutuhkan pengetahuan yang baik bagi masyarakat agar dapat terhindar dari terjadinya GAKY(Gondok) Sesuai dengan pendapat Arisman, MB (2002) mengatakan bahwa Gangguan Akibat Kekurangan Yodium dapat dicegah jika masyarakat memahami, mengetahui tentang faktok yang menjadi pemicu terjadinya GAKY.
3. Penggunaan Garam Beryodium
Hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data, dimana terdapat 106 responden (76,26%) menggunakan garam beryodium dengan cara penggunaan serta penyimpanan yang kurang baik, dan 33 responden (23,74%) menggunakan garam beryodium dengan pengelolaan serta penyimpanan yang baik.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji χ2 diperoleh hasil χ2 hitung = 7,761 dan χ2 tabel = 3,84 berarti χ2 hitung > χ2 tabel dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat dinyatakan ada hubungan antara penggunaan garam beryodium dengan kejadian GAKY diwilayah Puskesmas Anggrek

4. Kebiasaan Mengkonsumsi bahan Goitrogenik.
Hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data, dimana terdapat 113 responden(81,29%) sering mengkonsumsi bahan goitrogenik, dan 26 responden (18,71%) jarang mengkonsumsi bahan goitrogenik.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji χ2, diperoleh hasil χ2 hitung = 26,512 dan χ2 tabel = 3,84, berarti χ2 hitung > χ2 tabel dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat dinyatakan ada hubungan antara kebiasaan mengkonsumsi bahan goitrogenik dengan kejadian GAKY.













BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada 139 responden penderita GAKY diwilayah Puskesmas Anggrek hasil pengujian hipotesis dan pembahasan dengan tingkat kemaknaan < 0,05 dapat disimpulkan :
1. Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan penderita gangguan akibat kekurangan yodium, artinya pendidikan yang berpendidikan kurang mempunyai peluang besar untuk terjadi GAKY dibanding penderita GAKY dengan latar belakang pendidikan baik.
2. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian GAKY (Gondok) yang artinya penderita yang pengetahuan kurang mempunyai peluang besar untuk terjadi GAKY dibanding penderita GAKY dengan pengetahuan baik.
3. Terdapat hubungan antara penggunaan garam beryodium dengan kejadian GAKY(Gondok), yang artinya penderita yang penggunaan garam beryodium tidak baik mempunyai peluang besar untuk terjadi GAKY dibanding penderita GAKY dengan penggunaan garam beryodium yang baik.
4. Terdapat hubungan antara kebiasaan mengkonsumsi bahan goitrogenik dengan kejadian GAKY (Hondok), artinya penderita yang kebiasaan mengkonsumsi bahan goitrogenik yang sering mempunyai peluang besar untuk terjadi GAKY dibanding penderita GAKY dengan kebiasaan mengkonsumsi bahan goitrogenik yang jarang.
B. Saran
Berdasarkan uraian diatas maka melalui kesempatan ini peneliti menyarankan :
1. Hendaknya diupayakan program penyuluhan pengetahuan GAKY pada masyarakat, kelompok dan individu baik dalam gedung maupun diluar gedung Puskesmas sebagai implementasi awal untuk mengurangi prevalensi GAKY yang lebih tinggi.
2. Untuk peneliti berikutnya, agar melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya gangguan akibat kekurangn yodium pada variabel yang belum diteliti.












DAFTAR PUSTAKA
Arikunto S, 1998, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta Jakarta
Arisman MB.2001, Gizi Dalam Dasar Kehidupan,
Depkes RI, 1992, Undang – undang Kesehatan Indonesia No. 23 Tentang Kesehatan, Jakarta

, 1997, Pedoman Pemberian Kapsul Minyak Beryodium.
, 1997, Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang.
, 2000, Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Kapsul Minyak Beryodium.

Faisal, S. 1981, Pendidikan Luar Sekolah, Jakarta Arcan
Guyton A. 1992, Fisiologi Manusia Dan Mekanisme Penyakit. Alih Bahasa Petrus Adrianto Jakarta 1992. EGC.

Granner D. K. ; Hormon Tiroid. Dalam Martin, Dafid, W. Editor, Biokimia Harper. Alih Bahasa Iyan Darmawan Ed. 20. Jakarta 1992. EGC.

Irham Machtfoedz, Endah Marianingsi, Th, Margono,APP, Heni Puji Wahyuningsi, (April 2005), Metodologi Penelitian bidang Kesehatan, Keperawatan dan Kebidanan.

Leeson C. R. 1989, Buku Ajar Histologi. Alih Bahasa Jan Tambayong, Sigit Wonodirejkso. Ed. V. Jakarta 1989 EGC.

Noer S.H.M. 1997 : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed. III. Jakarta.

Notoatmodjo. S, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan.
, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan.
, 1993, Pengantar Pendidikan Kesehatan Dan Ilmu Prilaku Kesehatan Yogyakarta.

Rahmat J. 1998, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosda Karya Bandung,
Robbins S. L. Dan Kumar V, 1995, Kelenjar Endokrin Dalam Buku Patologi II. Ed. IV. Alih Bahasa Staf Pengajar Lab. PA FK Airlangga Surabaya, EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar