Sabtu, 02 Januari 2010

ANALISIS PENGEMBANGAN OBYEK WISATA ( THE TOURISM OF DEVELOPMENT ) TERHADAP TINGKAT KUNJUNGAN WISATAWAN DI PENTADIO RESORT KABUPATEN GORONTALO

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki obyek-obyek wisata yang sangat menarik antara lain: wisata alam, wisata buatan, wisata budaya sejarah dan wisata bahari, telah secara serius memperhatikan perkembangan sektor pariwisata. Perkembangan dunia wisata diharapkan akan berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan, hal ini perlu didukung dengan tersedianya fasilitas-fasilitas umum pendukung industri pariwisata, disamping dengan terus memperbaiki obyek dan daya tarik wisata yang akan ditawarkan. Kawasan wisata di Kabupaten Gorontalo sebagai asset pariwisata perlu diperhatikan. Penanganan yang professional atas asset pariwisata ini juga perlu ditingkatkan terutama perencanaan dan penataan yang berwawasan alam dan budaya. Agar obyek wisata dapat dimanfaatkan secara nyata diperlukan modal dan teknologi yang memadai, serta untuk menjaga kelestarianya diperlukan pengelolaan yang efektif agar tidak menimbulkan dampak yang negatif terhadap lingkungan kawasan dan sosial budaya masyarakat sekitar.
Pemanfaatan jasa lingkungan untuk kepentingan wisata alam, perlu memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan obyek wisata alam yakni konservasi, edukasi, ekonomi, rekreasi dan peran / partisipasi masyarakat. Diharapkan dalam pengembangan obyek wisata tidak hanya melihat pada hasil jangka pendek, tetapi harus melihat pada kelangsungan jangka panjang sehingga perlu perencanaan dan dukungan yang matang tidak hanya dari swasta tapi juga pemerintah dan masyarakat.
Salah satu upaya pengembangan objek wisata adalah dengan memanfaatkan potensi objek wisata itu sendiri. Adapun untuk menemukan potensi objek wisata di suatu daerah orang harus mengacu pada apa yang dicari oleh wisatawan. Umum diketahui bahwa modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan itu ada tiga, yakni: alam, kebudayaan, dan manusia itu sendiri.
Yang perlu diperhatikan dalam pengembangan objek wisata adalah kemampuan untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
Beberapa objek wisata yang berada di Kabupaten Gorontalo antara lain yaitu : Menara limboto, Lapangan golf yosonegoro, Cagar alam hutan nantu, Pemandian taluhu barakati, Cagar alam tangale, Pemandian Air Panas Pentadio Resort yang dijadikan sebagai obyek penelitian.
Obyek wisata Pentadio Resort merupakan salah satu lokasi objek wisata bertaraf internasional di Kecamatan Telaga biru, Kabupaten Gorontalo. Pentadio tepatnya terletak di kawasan Danau Limboto. Selain strategis, tempat ini terlihat sangat menarik.
Fasilitas yang ada di Pentadio Resort ini antara lain: restauran, toko souvenir, kolam renang, pondokan, sauna, air mancur, lokasi pemancingan, dan bak air panas. Dilokasi ini juga terdapat sumber air panas yang mengalir ke Danau Limboto. Dilokasi tersebut pengunjung dapat menyaksikan semburan mata air yang cukup panas sehingga dapat digunakan untuk merebus telur hingga matang. Mereka dapat menikmati siraman air dari sumber air yang cukup hangat yang sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Disamping itu, kawasan ini juga dilengkapi barbagai macam fasilitas yang bertaraf internasional dan dikelola secara profesional, sehingga para pengunjung dapat melakukan aktivitas santai lainya dengan nyaman, seperti mandi uap, mandi celup, berenang di kolam renang air panas atau di kolam renag air dingin, memancing, dan bersepeda air. Bagi pengunjung yang ingin menyalurkan hobi menyanyi, di lokasi ini juga tersedia pub dan karaoke.
Melihat obyek wisata ini semakin ramai dikunjungi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara pada tahun 2003, Pemerintah Daerah Gorontalo merenovasi dan melengkapi objek wisata ini dengan berbagai macam fasilitas penunjang yang dapat memanjakan para pengunjung.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat di tarik suatu rumusan masalah tentang “Analisis Strategi Pemasaran dan Pengembangan Obyek Wisata (The Tourism Of Development) Terhadap Tingkat Kunjungan Wisatawan Di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo”



C. Masalah pokok
Yang menjadi masalah pokok yaitu: apakah Strategi pemasaran dan pengembangan objek wisata (The Tourism Of Development) dapat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo.
D. Tujuan
Adapun tujuan yaitu untuk mengetahui pengaruh strategi pemasaran dan pengembangan objek wisata (The Tourism Of Development) terhadap tingkat kunjungan wisatawan di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo.
E. Manfaat
1. Membantu merumuskan strategi alternatif dalam penyusunan strategi pemasaran
2. Lebih mengenalkan objek wisata bagi masyarakat luas
3. Menamba wawasan dan cara menganalisa strategi pemasaran dan pengembangan terhadap jasa objek wisata dan mengantisipasi jika terjadi masalah







BAB 11
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran menurut Kotler didefinisikan sebagai berikut: Manajemen pemasaran adalah analisis perencanaan, penerapan dan pengendalian terhadap program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran dan hubungan yang menguntungkan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi.
Boyld (2000, hal 13) mengemukakan bahwa manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan-tujuan individu dan organisasi.
Siswanto (2001, hal 8) mengemukakan ruang lingkup manajemen pemasaran meliputi :
1. Menyusun rencana atau strategi umum
2. Mengarahkan pelaksanaan rencana atau strategi tersebut
3. Menilai, menganalisa dan mengawasi seberapa jauh hasil rencana atau strategi yang telah dicapai. Sedangkan manajemen pemasaran menurut Stanton (2001, hal 5) yaitu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang di tujukan untuk merencanakan, menentukan harga, dan mendistrbusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada, maupun pembeli potensial.
Dari definisi di atas, manajemen pemasaran dirumuskan sebagai suatu proses manajemen yang meliputi penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar, serta mendorong proses pertukaran secara sempurna dan menguntungkan pihak-pihak yang terlibat. Konsep Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting bagi keberhasilan suatu perusahaan, maka faktor pelayanan menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Dengan demikian, maka konsep pemasaran dapat didefinisikan sebagai berikut: Konsep pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuas kebutuhan debitur merupakan syarat ekonomis dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan ( Assael H, 2000).
Berdasarkan definisi tersebut, dapat diambil makna bahwa seluruh kegiatan dalam perusahaan harus ditujukan kepada pemuas kebutuhan debitur, sehingga dapat diperoleh laba maksimum dalam jangka panjang, demi kelangsungan hidup perusahaan.
Swastha dalam bukunya ”Asas-asas Marketing” di sebutkan bahwa ada tiga faktor yang mendasari konsep pemasaran, yaitu:
1. Seluruh perencanaan dan kegiatan perusahaan harus berorientasi pada debitur atau pasar.
2. Volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan perusahaan.
3. Seluruh kegiatan perusahaan dalam pemasaran harus dikoordinasikan dan diintegrasikan secara organisasi. berdasarkan hal tersebut maka konsep pemasaran ini mempunyai hubungan yang erat dengan dengan perkembangan manajemen pemasaran. Sejak terjadinya revolusi industri, manajemen pemasaran telah mengalami beberapa tahap perkembangan yaitu:
1) Tahap orientasi produksi. Pada tahap ini, perusahaan mempunyai masalah utama bagaimana caranya untuk meningkatkan produksi, faktor layanan yang lain dengan harga yang layak agar dapat diperoleh laba yang besar. Konsep yang di anut oleh perusahaan yang berada pada tahap ini adalah konsep produk yang dijual dengan harga yang layak, dan diperlukan sedikit usaha pemasaran agar tercapai penjualan yang memuaskan.
2) Tahap orientasi penjualan. Setelah masalah produksi teratasi jumlah produk menjadi berlimpah oleh karena pangsa pasar terbatas, maka timbul permasalahan bagaimana agar dapat menjual produk-produk yang telah dihasilkan. Perusahaan yang berada pada tahap ini mengatur sebuah konsep yaitu konsep penjualan, yang menyatakan bahwa debitur tidak akan bersedia membeli suatu produk dalam jumlah yang cukup banyak tanpa didorong dengan usaha-usaha promosi yang kuat. Perusahaan yang mengaplikasikan konsep ini lebih mementingkan penjualan daripada kepuasan debitur. Cara seperti ini pada hakekatnya justru merugikan perusahaan sendiri, sebab pembeli marasa tertipu dan kecewa sehingga tidak akan mengulang pembelianya.
3) Tahap orientasi pemasaran. Dengan adanya berbagai perubahan masyarakat yang cepat, kemajuan teknologi yang semakin maju dan rasa jenuhdebitur, maka orientasi penjualan tidak dapa lagi memberikan pamecahan atau jawaban secara keseluruhan terhadap usaha-usaha untuk mencapai tujuan perusahaan. Untuk mencapai tujuan perusahaan harus lebih meningkatkan kebutuhan dan keinginan debitur. Perusahaan yang demikian ini mengatur organisasi pemasaran, menyatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan perusahaan terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan debitur dan pemberian kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien dari yang dilakukan oleh pesaing. Jadi konsep pemasaran adalah suatu orientasi pada debitur yang didukung oleh pemasaran yang terpadu dan ditunjukan untuk mencapai kepuasan yang semakin meningkat sebagai kunci terciptanya tujuan perusahaan.
4) Orientasi manusia dan tanggungjawab sosial perusahaan yang berupaya memberikan kepuasan kepada debitur dan kemakmuran masyarakat dalam jangka panjang mengatur konsep pemasaran kemasyarakatan. Konsep ini menyatakan bahwa perusahaan harus menghasikan kepuasan dabitur dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang sebagai kunci uantuk mencapai tujuan perusahaan yang banyak behubungan dengan masalah penciptaan dan pencapaian faktor hidup yang lebih baik, maka konsep ini dipandang sebagai konsep pemasaran yang baru. Perkembangan masyarakat dan teknologi telah menyebabkan perkembangan konsep pemasaran. Sekarang ini perusahaan dituntut untuk dapat menggapai cara-cara atau kebiasaan masyarakat. Perusahaan tidak hanya berorientasi ada debitur saja, tetapi juga harus berorientasi kepada masyarakat. Dengan konsep pemasaran sosial (Social Market Concept), perusahaan berusaha memberikan kepuasan debitur dan kesejahteraan masyarakat untuk jangka panjang.
B. Pengertian Pemasaran
Pengertian pemasaran dari pendapat beberapa ahli telah mengemukakan definisi tentang pemasaran yang kelihatannya berbeda meskipun sebenarnya sama. Perbedaan ini disebabkan karena mereka meninjau pemasaran yang paling luas, ada beberapa pendapat mengenai definisi pemasaran diantaranya dikemukakan oleh (Stanton, 2000 : 112) yaitu: Pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dengan mana individu-individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk-produk yang bernilai. (Kotler, 2000, hal 5).devinisi pemasaran itu berpijak pada konsep-konsep inti pemasaran, yakni sebagai berikut :
1. Kebutuhan, keinginan dan permintaan
2. Produk
3. Nilai, biaya dan kepuasan
4. pertukaran, transaksi dan hubungan
5. Pasar
6. Pemasar dan pemasaran.
Menurut Sumarni (2002, hal 261) Pemasaran adalah suatu sistem keseluruan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistrbusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan, baik kepala pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
H.Nystrom menyatakan bahwa Pemasaran merupakan suatu kegiatan penyaluran barang atau jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen.
Adapun pengertian pemasaran menurut Philip dan Duncan, Pemasaran yaitu sesuatu yang meliputi semua langkah yang dipakai atau dibutuhkan untuk menempatkan barang yang bersifat tangible ke tangan konsumen.
Sedangkan menurut Asosiasi Pemasaran Amerika Serikat / American Merketing Association, Pemasaran adalah pelaksanaan kegiatan usaha pedagangan yang diarahkan pada aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen.
Radiosunu (2001, hal 2) mengartikan bahwa Marketing adalah kegiatan manusia yang di arahkan pada usaha memuaskan kainginan dan kebutuhan manusia melalui proses pertukaran. Devinisi tersebut dengan jelas labih ditekankan pada usaha memuaskan keinginan dan kebutuhan manusia untuk dapat melangsungkan hidupnya.
Adapun definisi pemasaran menurut Stewart (2002, hal 4) mendefinisikan bahwa pemasaran adalah proses dalam masyarakat dengan mana struktur permintaan akan barang ekonomi dan jasa-jasa diantisipasi, diluaskan, dan dipenuhi malalui konsepsi, promosi pertukaran dan distribusi fisik dari barang-barang dan jasa-jasa tersebut.
Selanjutnya Haward (2001, hal 110) memberikan pengertian pemasaran yang lebih terperinci yaitu :
1. Mendefinisikan, kebutuhan-kebutuhan konsumen.
2. Mengkonseptualisasi kebutuhan-kebutuhan tersebut dihubungkan dengan kapasitas sebuah organisasi untuk memproduksi.
3. Mengkomunikasikan konseptualisasi tersebut kepada pusat kekuatan yang ada pada organisasi yang bersangkutan.
4. Mengkomunikasikan konseptualisasi kepada pihak konsumen.
Dari definisi tersebut di atas terlihat bahwa pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dimulai antara lain dengan mengidentifikasikan kebutuhan debitur yang perlu dipuaskan melalui pelayanan yang bermutu.
Selanjutnya Stanton beranggapan bahwa keberhasilan pelayanan dalam pemasaran menentukan keberhasilan perusahaan. Untuk itu kegiatan pemasaran harus dikoordinasikan dan dikelola dengan cara yang baik.

C. Pengertian Strategi
Konsep ini relevan dengan situasi jaman dulu yang sering diwarnai perang, dimana jendral dibutuhkan untuk memimpin suatu angkatan perang agar dapat selalu memenangkan perang. Strategi biasa diartikan sebagai suatu rencana utuk pembagian dan penggunaan kekuatan militer dan material-material pada daerah-daerah tetentu untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks bisnis strategi merupakan penggambaran arah bisnis yang mengikuti lingkungan yang dipilih dan merupakan pedoman untuk mengalokasikan sumber daya dan usaha suatu organisasi. Maka strategi adalah kunci keberhasilan dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis, yang mana memberikan kesatuan arah bagi suatu organisasi (Supriyono, 1990).







Gambar. Teknik Perumusan Strategi
D. Pengertian Pariwisata
Secara Etimologis Istilah ”PARIWISATA” berasal dari bahasa sansekerta, yang terdiri dari dua suku kata yaitu ”pari” dan ”wisata”. Pari berarti berulang-ulang atau berkali-kali, sedangkan wisata berarti perjalanan atau bepergian. Jadi pariwisata berarti, perjalanan yang dilakukan secara berulang-ulang atau berkali-kali. Orang yang melakukan perjalanan tersebut traveler, sedang orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan wisata disebut tourist.
Menurut definisi yang luas pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bresifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan antara keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial budaya, alam dan ilmu.
Kemudian pada angka 4 di dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Pariwisata, menjelaskan bahwa pengertian Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Dengan demikian pariwisata meliputi :
1. Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata.
2. Pengusahaan objek dan daya tarik wisata seperti : kawasan wisata, taman rekreasi, kawasan peninggalan sejarah (candi, makam), museum, pagelaran seni dan budaya, tata kehidupan masyarakat, dan yang bersifat alamiah : keindahan alam, gunung berapi, danau, pantai dan sebagainya.
3. Pengusahaan jasa dan sarana pariwisata, yakni :
a. Usaha jasa pariwisata (biro perjalanan wisata, agen perjalanan wisata, pramuwisata, konvensi, perjalanan insentif dan pameran, impresariat, konsultan pariwisata, informasi pariwisata);
b. Usaha sarana pariwisata yang terdiri dari : akomodasi, rumah makan, bar, angkutan wisata, dan sebagainya.
c. Usaha-usaha jasa yang berkaitan dengan penyelenggaraan pariwisata.
Menurut Yoeti (2000 : 98) dalam bukunya “ Pengantar Ilmu Pariwisata” menyebutkan : Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat lain dengan maksud bukan untuk berusaha (business) atau mencari nafka ditempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya dan rekreasi untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam”
Richard dalam Marpaung, Bahar (2000, 46-47) menjelaskan definisi pariwisata sebagai berikut : Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ketempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengansuatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha untuk mencari nafka ditempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.
Menurut definisi yang lebih luas yang dikemukakan oleh Kodhyat (2003 : 4) adalah sebagai berikut : pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ketempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebaagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. Sedangkan menurut pendapat dari Spillane (2001 : 2) mengemukakan bahwa pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tijuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain.
Wahab (2002 : 55) mengemukakan definisi pariwisata yaitu pariwisata adalah salahsatu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dam penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang komplek, pariwisata juga merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan cindramata, penginapan dan transportasi.
Roberth dalam Mappi Sung (2001 : 9) memberikan batasan bahwa pariwisata adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi wisatawan, bisnis, pemerintah serta masyarakat tuan rumah dalam proses menarik dan melayani wisatawan ini serta pengunjung lainya.
E. Pengertian Kepariwisataan

Kepariwisataan adalah keseluruhan daripada gejala-gejala yang ditimbulkan oleh perjalanan dan pendalaman orang-orang asing serta penyediaan tempat tinggal sementara, asalkan pendalaman itu tidak tinggal menetap dan tidak memperoleh penghasilan dari aktivitas yang bersifat sementara.


Undang-undang Republik Indonesia No.9/1990 berisi beberapa pengertian tentang kepariwisataan, yaitu:
1. Wisata adalah suatu kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan yang dilakukan secara sukarekala serta bersiat semantara untuk menikmati suatu tujuan tersebut.
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
3. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut.
4. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan wisata.
Seorang ahli ekonomi bangsa Australia, Schulalard, dalam Yoeti, (2001 : 105) telah memberikan batasan kepariwisataan sebagai berikut: “Kepariwisataan adalah sejumlah kegiatan, terutama yang ada kaitanya dengan kegiatan perekonomian yang secara langsung berhubungan dengan masuknya, adanya pendalaman dan bergeraknya orang-orang asing keluar masuk suatu kota, daerah atau negara.
Nyoman S.Pendit (2003 : 33) menjelaskan tentang kepariwisataan sebagai berkut: Kepariwisataan juga dapat memberikan dorongan langsung terhadap kemajuan pembangunan atau perbaikan pelabuhan-pelabuhan (laut atau udara), jalan-jalan raya, pengangkutan setempat, program program kebersihan atau kesehatan, pilot proyek sasana budaya dan kelestarian lingkungan dan sebagainya. Yang kesemuanya dapat memberikan keuntungan dan kesenangan baik bagi masyarakat dalam lingkungan daerah wilayah yang bersangkutan maupun bagi wisatawan pengunjung dari luar. Kepariwisataan juga dapat memberikan dorongan dan sumbangan terhadap pelaksanaan pembangunan proyek-proyek berbagai sektor bagi negara-negara yang telah berkembang atau maju ekonominya, dimana pada gilirannya industri pariwisata merupakan suatu kenyataan ditengah-tengah industri lainnya.
F. Pengertian Obyek dan Daya Tarik Wisata
Pengertian objek dan daya tarik wisata menurut Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 yaitu yang menjadi sasaran perjalanan wisata yang meliputi :
1. Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam serta flora dan fauna, seperti : pemandangan alam, panorama indah, hutan rimba, dengan tumbuhan hutan tropis serta binatang-binatang langka.
2. Karya manusia yang berwujud museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya, wisata agro (pertanian), wisata tirta (air), wisata petualngan, taman rekreasi dan tempat hiburan.
3. Sasaran wisata minat khusus, seperti : berburu, mendaki gunung, gua, industri, dan kerajinan, tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat-tempat ibadah, tempat-tempat ziarah dan lain-lain.
G. Pengertian Wisatawan
Dalam Undang-undang kepariwisataan nomor 9 tahun 2000, wisatawan didevinisikan sebagai orang yang melakukan kegiatan wisata. Jadi menurut pengertian ini, semua orang yang melakukan perjalanan wisata disebut ”wisatawan” apapun tujuannya yang penting perjalanan itu bukan untuk menetap dan tidak untuk mencari nafkah ditempat yang dikunjungi.
Menurut IUOTO (Internasional Union of Official Travel Organization) sebagaimana disebutkan dalam Damardjati (2001 : 88) kata tourist atau wisatawan haruslah di artikan sebagai:
1. Orang yang bepergian untuk bersenang-senang (pleasure), untuk kepentingan keluarga, kesehatan dan lain sebagainya.
2. Orang-orang yang bepergian untuk kepentingan usaha.
3. Orang-orang yang datang dalam rangka perjalanan wisata walaupun mereka singgah kurang dari 24 jam.
H. Pengembangan Obyek Wisata (The Tourism Of Development)
Menurut Umar (2005 : 54), bahwa strategi pengembangan adalah setiap usaha untuk memperbaiki pelaksaaan pekerjaan yang sekarang maupun yang akan datang dengan memberikan informasi dalam mempengaruhi peningkatan suatu penerimaan.
Pengembangan obyek wisata ada beberapa macam antara lain :
1. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Menurut Nawawi (2003 : 47), ada 3 pengeritan Sumber Daya Manusia Yaitu:
a. Sumber Daya Manusia adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan).
b. Sumber Daya Manusia adalah potensi manusia sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya.
c. Sumber Daya Manusia adalah potensi yang merupakan aset dan berfungsi sebagai modal didalam organisasi bisnis dan dapat diwujudkan menjadi potensi nyata secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.
Pengembangan Sumber Daya Manusia adalah memperbaiki efisiensi kerja dalam melaksanakan dan mencapai sasaran program yang ditetapkan. Tujuan pengembangan Sumber Daya Manusia dalam pariwisata merupakan suatu kegiatan atau usaha yang dilakukan dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia pengelola obyek wisata seperti pelaksanaan program pelatihan dan pengembangan, agar dalam suatu pelayanan pariwisata dapat memenuhi kebutuhan pengunjung sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.
2. Pengembangan Fasilitas
Menurut kamus bahasa Indonesia, pengertian fasilitas adalah sarana dan prasarana untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan dalam suatu pencapaian tujuan yang diharapkan. Pengembangan fasilitas obyek wisata harus benar-benar diperhatikan dan di usahakan seefektif mungkin, agar dapat memenuhi kebutuhan pengunjung.


3. Pengembangan Produk Wisata
Produk wisata merupakan rangkaian dari berbagai jasa yang saling terkait, yaitu jasa yang dihasilkan dari berbagai perusahaan (segi ekonomis), jasa masyarakat (segi sosial) dan jasa alam.
Suwantoro (2007 : 75) pada hakekatnya pengertian produk wisata adalah keseluruhan pelayanan yang diperoleh dan dirasakan atau dinikmati wisatawan semenjak ia meninggalkan tempat tinggalnya sampai kedaerah tujuan wisata yang dipilihnya dan kembali kerumah dimana ia berangkat semula.
Yoeti (2002 : 211) Produk wisata sebagai salah satu obyek penawaran dalam pemasaran pariwisata memiliki unsur-unsur utama yang terdiri dari 3 bagian yaitu:
a. Daya tarik daerah tujuan wisata, termasuk didalamnya citra yang dibayangkan oleh wisatawan.
b. Fasilitas yang dimiliki daerah tujuan wisata, meliputi akomodasi, usaha pengolahan makanan, parkir, transportasi, rekreasi dan lain-lain.
c. Kemudahan untuk mencapai daerah tujuan wisata tersebut.
Mason (2000 : 46) dan Poewarto (2000 : 46) telah membuat rumusan tentang komponen-komponen produk wisata yaitu :
a. Atraksi, yaitu daya tarik wisata baik alam, budaya maupun buatan manusia seperti festival atau pentas seni.
b. Aksebilitas, yaitu kemudahan dalam memperoleh atau mencapai tujuan wisata seperti organisasi kepariwisataan (travel agent).
c. Amenities yaitu fasilitas untuk memperoleh kesenangan. Dalam hal ini dapat berbentuk akomodasi, kebersihan dan keramahtamahan.
d. Networking, yaitu jaringan kerjasama yang berkaitan dengan produk yang ditawarkan baik lokal, nasional maupun internasional.
Pengembangan sebuah produk mengharuskan perusahaan menetapkan manfaat-manfaat apa yang akan diberikan oleh produk itu. Manfaat-manfaat ini dikomunikasikan dan hendaknya dipenuhi oleh atribut produk. Untuk produk barang, misalnya dalam bentuk seperi mutu, ciri dan desain. Mutu produk menunjukan kemampuan sebuah produk untuk menjalankan fungsinya, ciri produk merupkan saran kompetitif untuk membedakan produk perusahaan dengan produk pesaing, sedangkan desain dapat kegunaan atau manfaat produk serta coraknya. Jadi produk barang tidak hanya penampilan yang diperhatikan, tetapi juga hendaknya ia merupakan produk yang simpel, aman, tidak mahal, sederhana dan ekonomis dalam proses produksi dan distribusinya.
Kotler (2000, hal 3) menyatakan bahwa produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar unruk diperhatikan, dibeli, digunakan atau dikonsumsikan, istila produk mencakup banda fisik, jasa, kepribadian tempat organisasi dan ide..
Dari beberapa pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa produk wisata adalah produk yang di desain sedemikian rupa yang dapat ditawarkan kepada pengunjung wisata untuk di beli, di gunakan atau dikonsumsikan, sesuai dengan kebutuhan para pengunjung.
Pengembangan objek wisata (The Tourism Of Development) perlu diperhatikan dan dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menarik untuk dikunjungi. Beberapa syarat yang dapat dilakukan dalam pengembangan objek wisata yaitu :
a. Obyek wisata tersebut harus mempunyai apa yang disebut dengan ”Something to see” maksudnya harus mempunyai daya tarik khusus, disamping itu juga harus mempunyai atraksi wisata yang dapat dijadikan sebagai Entertaiments” bila orang datang kesana;
b. Selanjutnya harus mempunyai ”Something to do” selain banyak yang dapat dilihat dan disaksikan, harus pula disediakan fasilitas rekreasi yang dapat membuat mereka betah tinggal lebih lama;
c. Kemudian yang harus ada ialah ”Something to buy” terutama barang-barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ketempat masing-masing.
Dari pengertian di atas dapat diberikan gambaran bahwa pengembangan objek wisata merupakan suatu cara untuk memperbaiki objek wisata itu sendiri guna meningkatkan kunjungan wisatawan.

I. Analisa SWOT
Analisa sangat penting untuk mendapatkan gambaran suatu perusahaan mengenai keadaan perusahaan dan dunia usaha pada umumnya. Dengan gambaran ini perusahaan akan dapat menganalisa kemampuanya untuk mencapai prestasi secara maksimal. SWOT menurut Hani Handoko adalah analisis situasi tidak hanya menyangkut suatu aspek oprasional perusahaan, tetapi juga menyangkut segi pemasaran, produksi, personalia, pembelanjaan dan akuntansi atau administrasi serta segi menejerial.





Gambar. Analisa SWOT
(Rakuti,Freddy, 1999).
Menurut Fred R. David (1998) SWOT merupakan alat pencocokan yang penting dalam membantu mengembangkan empat tipe strategi:
1. Strategi SO atau startegi peluang kekuatan menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang eksternal
2. Strategi WO atau strategi kelemahan-peluang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan dengan memanfaatkan peluang eksternal.
3. Strategi ST atau strategi kekuatan-ancaman menggunakan kekuatan perusahaan untuk menggunakan kekuatan perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal.
4. Strategi WT atau strategi kelemahan-ancaman merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman lingkungan.
Tabel Matriks SWOT
IFAS
EFAS Kekuatan (Streght)
(Daftar Kekuatan) Kelemahan (Weakness)
(Daftar Kelemahan)
Peluang (Opportunity)
(Daftar Peluang) Strategi SO Strategi WO
Ancaman (Threat)
(Daftar Ancaman) Strategi ST Strategi WT

Sumber: Fred R. David (1998)
Keterangan: EFAS(External Factor Analysis Strategy)
IFAS ( Internal Factor Analysis Strategy)
J. Segmenting, Targeting and Positioning
Menurut Kotler (1997) adalah ”merupakan pemasaran mikro yang mana perusahaan menyesuaikan program pemasaran pada kebutuhan dari segmen geografik, demografik, psikografik atau tingka laku yang ditentukan secara sempit”. Bentuk akhir dari pemasaran yang terterah adalah pemasaran yang di sesuaikan yaitu bila perusahaan menyesuaikan produk dan program pemasaran pada kebutuhan pelanggan spesifik atau organisasi pembelian. Perusahaan yang akan beroprasi dalam pasar yang luas menyadari bahwa ia biasanya tidak dapat melayani seluruh pelanggan dalam pasar tersebut. Para pelanggan terlalu banyak, maka perusahaan melakukan segmentasi, targeting dan positioning yang mana harus dilayani oleh produsen.
Segmentasi Pasar Penentuan Pasar Memposisikan
Sasaran Produk/Jasa








Gambar Segmenting, Targeting and Positioning
Sumber: Philip Kotler Marketing Management (1994).
K. Matriks SPACE (Strategic Posisition and Action Evaluation)
Merupakan alat pencocokan yang terdiri dari kerangka kerja empat kuadran yang menunjukan apakah strategi agresif, konserfatif, defensif atau bersaing paling cocok untuk suatu organisasi. Sumbuh matriks SPACE menggambarkan dua dimensi internal (kekuatan keuangan) dan (keunggulan bersaing) serta dua dimensi external (stabilitas lingkungan) dan (kekuatan industri), keempat faktor ini adalah penentu paling penting dari posisi strategi organisasi secara keseluruhan.
+6
+5
+4
+3
+2
+1
0
-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 +1 +2 +3 +4 +5 +6
-1
-2
-3
-4
-5
-6
Gambar Matriks SPACE
Sumber: H. Rowe, R. Madson dan K. Dickel Strategic Management (1982)

L. Analisa PLC (Product Life Cycle)
Seperti halnya dengan manusia, suatu produk juga memiliki siklus atau daur hidup. Siklus hidup PLC ini yaitu suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar. PLC ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk. Konsep ini dipopulerkan oleh Levitt (1978) yang kemudian penggunaanya dikembangkan dan diperluas oleh para ahli lainya. Ada berbagai pendapat mengenai tahap-tahap yang ada dalam PLC suatu produk. Ada yang menggolongkanya menjadi introduction, growth, maturity, decline dan termination. Sementara itu ada pula yang menyatakan bahwa keseluruhan tahap-tahap PLC terdiri dari introduction (pioneering), rapid growth (market acceptance), slow growth (turbulance), maturity (saturation), dan decline (obsolescence). Meskipun demikian pada umumnya yang digunakan adalah penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu introduction (tahap perkenalan), growth (tahap pertumbuhan), maturity (tahap kedewasaan) dan decline (tahap penurunan).
M. Bauran Pemasaran (Marketing Mix)
Dalam manajemen marketing kita mengenal adanya marketing mix (bauran pemasaran). Usaha manajemen suatu organisasi marketing untuk mencapai pasaran dilakukan dengan mengkombinasikan dan memobilisasikan sumber-sumber interen dan eksteren dengan menyesuaikan pada kendala unsur lingkungan dalam merumuskan suatu kegiatan marketing. Perpaduan variabel-variabel yang dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan suatu golongan konsumen disebut adonan/bauran pemasaran (marketing mix). Singkatnya, marketing mix adalah suatu kesatuan alat-alat (tools) marketing yang digunakan oleh perusahaan/organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan marketingnya pada pasar sasaran (target market) tertentu Philip kotler (1997). Dasar konsep marketing adalah ”marketing strategis, yang merupakan kombinasi dari variabel-variabel yang dapat dikontrol oleh organisasi/perusahaan”. Marketing mix adalah perpaduan dari variabel-variabel interen yang dapat dikontrol, dimobilisasi untuk mencapai pasar sasaran (segmen) tertentu. Bauran pemasaran sebagai suatu konsep, pertama kali dipelopori oleh Borden sedangkan dalam penerapanya di dunia jasa dilakukan oleh Mac Carthy yang dikenal dengan ”Four Ps” yaitu:
Product, Price, Place dan promotion.
Bauran pemasaran dalam pelaksanaanya memiliki unsur-unsur yang saling terpadu yang mana tidak dapat dipisahkan agar pemasaran yang dilakukan lebih efektif dalam pelaksanaanya. Christopher Lovelock dalam bukunya Service Marketing (2002) menambahkan ”Three Ps” yaitu: People, Proses dan Physical Evidence.






















BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
A. Kerangka Konseptual
Dinas Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika sebagai salah satu satuan kerja perangkat daerah di Kabupaten Gorontalo merupakan Dinas yang mempunyai kewenangan dalam mengatur berbagai obyek wisata yang ada di Kabupaten Gorontalo. Salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Gorontalo dan yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini yaitu Pentadio Resort.
Pentadio Resort merupakan salah satu lokasi obyek wisata bertaraf internasional di Kecamatan Telagabiru, Kabupaten Gorontalo. Pentadio tepatnya terletak di kawasan Danau Limboto. Selain strategis, tempat ini terlihat sangat menarik. Untuk meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan pada Pentadio resort, maka dilakukan pengembangan objek wisata (The Tourism Of Development).
Pengembangan objek wisata yang dilakukan pada pentadio resort antara lain: pengembangan fasilitas, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dan pengembangan produk wisata.
Dari ketiga indikator pengembangan objek wisata (The Tourism Of Development) di atas, maka diharapkan akan mampu meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo.
Apabila di gambarkan dalam suatu skema, maka kerangka konseptual diatas menimbulkan alur pikir seperti yang nampak berikut ini:
Gambar 1. Alur Kerangka Konseptual



















B. Hipotesis
Berdasarkan permasalahan diatas maka dikemukakan hipotesa kerja sebagai berikut : bahwa dengan adanya strategi pemasaran dan pengembangan obyek wisata (The Tourism Of Development) dapat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo.

















BAB IV
METODE ANALISIS
A. Obyek Yang di Analisis
Lokasi yang dijadikan obyek adalah salah satu obyek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Gorontalo yaitu Pentadio Resort.
B. Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional Variabel
1. Identifikasi Variabel
a) Variabel independen (X) adalah strategi pemasaran dan pengembangan objek wisata (The Tourism Of Development).
b) Variabel dependen (Y) adalah tingkat kunjungan wisatawan di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo
2. Definisi Operasional Variabel
a) Strategi Pemasaran dan Pengembangan Obyek Wisata yang dimaksud adalah meliputi: pemasaran dan pengembangan fasilitas, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pemasaran dan pengembangan produk wisata.
b) Peningkatan kunjungan wisatawan yaitu rata-rata tingkat kunjungan wisatawan di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo baik wisatawan nusantara maupun mancanegara.


C. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan adalah metode kualitatif, yaitu penggambaran atau pendeskripsian strategi pemasaran dan pengembangan objek wisata di Pentadio resort Kabupaten Gorontalo.




































BAB V
ANALISA DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Obyek Penelitian
Pentadio resort adalah salah satu obyek wisata andalan Provinsi Gorontalo. Kata pentadio di ambil dari bahasa gorontalo yang berarti pantai-danau, sedangkan kata resort di ambil dari bahasa inggris yang berarti tempat istirahat. Dinamakan pentadio karena resort ini berada dipinggir danau limboto yang indah dan mempesona itu. Pada awalnya obyek wisata seluas 14 hektar ( 140 ribu meter² ) ini sudah di temukan sejak tahun 1928 dan telah diresmikan oleh pemerintah Belanda yang ditandai dengan sebuah batu peringatan yang sekarang berada di tempat pemandian air panas. Setelah itu selama bertahun - tahun dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk sarana rekreasi dan menyembuhkan berbagai penyakit. Hingga akhirnya pada tahun 2003 mulai dibenahi oleh pemerintah kabupaten setempat dan diresmikan oleh Menkokesra saat itu dijabat oleh Hj. Jusuf Kalla pada tangal 25 Februari 2004. Obyek wisata yang dibangun dengan biaya Rp. 15 Miliar dengan dana APBD Kabupaten Gorontalo merupakan objek wisata yang bertaraf internasional, dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, serta dikelola secara professional.
Objek wisata ini terletak di Desa Pentadio, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Lokasinya sangat menarik dan strategis karena terletak dikawasan Danau Limboto. Memang obyek wisata dengan luas 14 ha ini berada di pinggir danau Limboto yang indah menjadi andalan bagi masyarakat setempat maupun wisatawan yang datang. Semoga saja dengan semakin majunya Pentadio Resort dapat memperbaiki keadaan danau Limboto yang mulai mengalami pendangkalan.
Di lokasi ini juga terdapat air panas yang mengalir ke Danau Limboto. Di lokasi tersebut pengunjung dapat menyaksikan semburan mata air yang cukup panas yang mengandung belerang yang dapat digunakan untuk merebus telur hingga matang, selain itu juga pengunjung dapat menikmati siraman air dari sumber mata air yang cukup hangat yang sangat bermanfaat untuk menyembukan penyakit kulit. Di samping itu, kawasan ini juga dilengkapi berbagai macam fasilitas yang bertaraf internasional dan dikelola secara profesional, sehingga para pengunjung dapat melakukan aktivitas santai lainnya dengan nyaman, seperti :
- Jalan akses untuk masuk kelokasi obyek wisata pentadio resort
Jalan akses masuk yang yang bisa dilewati oleh kendaraan roda 4 dan roda 2, langsung dilokasi yang dituju, yang disediakan dengan tempat parkir yang aman.
- Restaurant
Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati berbagai jenis menu khas Gorontalo serta beragam jenis minuman dan makanan ringan selain itu pengunjung bisa menikmati hiburan yang telah disediakan.
- Kolam renang air panas
Obyek wisata yang satu ini banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun, mancanegara. Air panas ini berasal dari Danau Limboto.
- Kolam renang dewasa
Kolam renang ini dirancang untuk wisatawan yang datang untuk berwisata dan juga untuk para atlet renang atau yang memiliki minat berenang.
- Kolam renang anak – anak
Kolam renang ini dirancang khusus untuk anak-anak yang ingin berenang atau untuk anak-anak yang mempunyai keinginan untuk belajar berenang.
- Cottage
Cottage ini dirancang dan disesuaikan dengan nuansa alam Danau Limboto. Ada bermacam – macam Cottage dengan harga yang bervariasi yang disesuaikan dengan banyaknya orang yang akan beristrahat ditempat tersebut.
- Sauna
Tempat mandi ini bersifat pribadi, yang disediakan bagi siapa saja, disini seseorang dapat menikmati terapi air panas yang mengandung belerang yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.
- Air mancur
Dirancang sesederhana mungkin untuk memberikan kesan lebih menarik, agar pengunjung lebih merasakan keindahan dan kenyamanan.
- Lokasi pemancingan
Tempat ini dibuat untuk para wisatawan yang mempunyai minat untuk memancing sebagai pengisi waktu luang.
- Arena bermain
Dirancang untuk tempat permainan anak – anak dimana mereka dapat menikmati panorama yang ada di pentadio resort, disini disediakan sepeda air, ayunan dan lain – lain
- Sepeda air
Selain kolam renang, disediakan juga kolam untuk sepeda air. tempat ini dirancang sedemikian rupa untuk para wisatawan yang ingin bermain sepeda air.
- Kolam air panas
Khusus untuk berendam air panas mengandung belerang yang berada ditempat terbuka.
- Karaoke
Bagi para wisatawan yang ingin berkaraoke, disediakan tempat untuk menyalurkan hobinya dibidang tersebut.
- Gedung pertemuan
Gedung ini disediakan untuk para pengunjung/wisatawan yang ingin mengadakan acara informal/pertemuan, seminar, yang dilengkapi dengan peralatan sound system, meja rapat dan panggung.
Pada awalnya obyek wisata pentadio resort ini dikelola oleh pihak swasta dalam hal ini ”mega zanur” Group yang selanjutnya dikelola/diserahkan ke bapak Jen Akib Bobihoe sebagai pengelola yang pada akhirnya dikembalikan/dikelola oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gorontalo sampai sekarang. Hal dilakukan oleh pihak swasta karena melihat kondisi yang kurang memberikan kontribusi bagi pengelolanya.
B. Deskripsi Variabel
1. Analisis Pengembangan Obyek Wisata
Kondisi yang terjadi pada obyek wisata Pentadio Resort bahwa pengembangan yang selama ini dilakukan belum menunjukkan kemajuan baik dari segi pengembangan fasilitas, Sumber Daya Manusia maupun pengembangan produk wisata sehingga belum dapat meningkatkan jumlah pengunjung. Hal ini dapat menyebabkan bertambahnya beban pemerintah dimana tanggung jawab terhadap pengembangan obyek tersebut sangat membutuhkan perhatian dan langkah-langkah strategis dari pihak pemerintah sebagai pengelola. Adapun upaya-upaya Pengembangan obyek wisata Pentadio Resort yang telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gorontalo meliputi : pengembangan fasilitas, Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta peningkatan kualitas layanan maupun aktifitas kepariwisataan.
Dalam proses pengembangan obyek wisata ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo mengalami berbagai kendala antara lain dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) dimana masih kekurangan tenaga – tenaga profesional, kemudian dari segi pendanaan dalam hal ini dana yang digunakan masih kurang karena dana ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan juga proses untuk mendapatkan dana ini masih sulit karena harus melalui birokrasi terlebih dahulu, oleh karena itu pengembangan yang dilakukan sering mengalami keterlambatan, sehingga untuk saat ini hanya beberapa fasilitas saja yang dapat dikembangkan. Begitu juga untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengembangan produk wisata belum dapat dilakukan secara maksimal, hal ini disebabkan oleh kurangnya dana yang di alokasikan untuk pengembangan obyek wisata.
Sejauh ini upaya yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gorontalo dalam hal pengembangan obyek wisata pentadio resort yaitu mengajukan program pembangunan 2010. Program pengembangan yang akan dilakukan antara lain yaitu: menambah fasilitas, memperbaiki fasilitas yang sudah rusak, dan menyediakan produk wisata seperti mengadakan atraksi-atraksi wisata, menyediakan souvenir dan lain sebagainya.
2. Analisis Tingkat Kunjungan Wisatawan Pada Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo
Untuk menganalisa apakah pengembangan obyek wisata mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo, maka perlu di analisa terlebih dahulu banyaknya wisatawan yang berkunjung pada selang waktu 2004-2008 seperti yang nampak berikut ini.
Table 1. Data Tingkat Kunjungan Wisatawan Mancanegara di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo Dari Tahun 2004-2008.

TAHUN JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN
(ORANG)
PERKEMBANGAN
(100 %)
MANCANEGARA
2004
2005
2006
2007
2008 106
27
12
27
30 -
(74,5)
(55,6)
55,6
10
N = 5 202
Sumber Data : Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo, 2009
Sesuai dengan tabel 1 diketahui bahwa jumlah kunjungan pada tahun 2004 yaitu sebanyak 106 orang kemudian pada tahun 2005 turun menjadi 27 orang, pada tahun 2006 turun lagi menjadi 12 orang, pada tahun 2007 naik menjadi 27 orang, sedangkan pada tahun 2008 naik menjadi 30 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini :
Gambar 2. Tingkat Kunjungan Wisatawan Mancanegara






Wisatawan mancanegara yang berkunjung di obyek wisata ini masih kurang hal ini disebabkan oleh kurangnya promosi yang dilakukan ditingkat internasional.
Table 2. Data Tingkat Kunjungan Wisatawan Domestik di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo Dari Tahun 2004 - 2008.

TAHUN JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN
(ORANG)
PERKEMBANGAN
(%)
DOMESTIK
2004
2005
2006
2007
2008
38.312
43.990
10.254
12.508
12.307 -
14,8
(76,7)
22
(1,6)
N = 5 117.371
Sumber Data : Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo, 2009
Dilihat dari tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa jumlah kunjungan wisatawan domestik pada tahun 2005 naik 14,8 %, pada tahun 2006 turun menjadi 76,7 %. Kemudian pada tahun 2007 naik 22 %, sedangkan pada tahun 2008 turun menjadi 1,6 %. Tabel diatas dapat juga dijelaskan melalui grafik berikut ini :
Gambar 3. Tingkat Kunjungan Wisatawan Domestik








Tingkat kunjungan wisatawan domestik di pentadio resort mengalami penurunan karena sudah banyak obyek wisata yang sejenis antara lain obyek wisata Taluhu barakati, Lombongo dan lain sebagainya. Kunjungan ke obyek wisata bagi sebagian orang masih dianggap sebagai sebuah kegiatan yang membutuhkan dana yang cukup besar/mahal dan juga hal tersebut belum membudaya dimasyarakat gorontalo.
Table 3. Data Tingkat Kunjungan Wisatawan Domestik dan Mancanegara di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo Dari Tahun 2004-2008.
TAHUN JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN
(ORANG) JUMLAH
(ORANG) PERKEMBANGAN
(%)
MANCANEGARA DOMESTIK
2004
2005
2006
2007
2008 106
27
12
27
30 38.312
43.990
10.254
12.508
12.307 38.418
44.017
10.266
12.535
12.337 -
14,6
(76,7)
22,1
(1,6)
N = 5 202 117.371 117.573
Sumber Data : Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo, 2009
Angka-angka tersebut di atas meningkat dan juga menurun dimana pada tahun 2004 tingkat kunjungan wisatawan yang terdiri dari wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara yaitu berjumlah 38.312 orang selanjutnya pada tahun 2005 mengalami peningkatan yaitu sebanyak 44.017 orang atau naik sekitar 14,89 %. Namun pada tahun 2006 tingkat kunjungan wisatawan mengalami penurunan yaitu 10.266 orang atau turun sekitar 76,68 % kemudian pada tahun 2007 meningkat lagi menjadi 12.535 orang atau naik 22,10 % dan pada tahun 2008 tingkat kunjungan wisatawan menuruan menjadi 12.337 orang (1,57%). total jumlah kunjungan wisatawan dari tahun 2004-2008 yaitu berjumlah 192.929 orang. jumlah pengunjung tertinggi pada tahun 2005 (44.017 orang) dan terendah pada tahun 2006 (10.266 orang). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
Gambar 4. Tingkat Kunjungan Wisatawan Domestik Dan Juga Mancanegara.










Di tahun 2004-2005 tingkat kunjungan wisatawan meningkat karena pada saat itu obyek wisata pentadio resort masih baru dan belum lama diresmikan sehingga banyak yang berkunjung, kemudian di tahun 2006-2008 tingkat kunjungan wisatawan mengalami penurunan karena pengembanganya kurang diperhatikan dan juga disebabkan oleh banyaknya saingan dalam hal ini obyek wisata yang sejenis.

C. Pembahasan
a. Pengembangan obyek wisata yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gorontalo meliputi :
 Pengembangan fasilitas
Diantara beberapa fasilitas yang telah disebutkan diatas ada beberapa jenis fasilitas yang berusaha untuk dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gorontalo, antara lain:
- Kolam renang bertaraf internasional
Sebelumnya di objek wisata pentadio resort telah dibangun sarana kolam renang akan tetapi belum memenuhi standar internasional, baik dalam hal ukuran maupun kedalaman kolam renang. Hal ini juga merupakan salah satu faktor penting dalam mengembangkan fasilitas objek wisata pentadio resort sebab kolam renang merupakan salah satu sarana yang ada pada pentadio resort yang banyak disukai oleh wisatawan, jadi sangat penting untuk memperhatikan kondisi dari kolam renang tersebut. Jadi dalam mengembangkan fasilitas kolam renang yang ada, pentadio resort dibawah pengawasan langsung Dinas Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gorontalo, melakukan pengembangan fasilitas kolam renang dengan cara memperluas dan menambah kedalaman area kolam renang yang ada.
- Lokasi pemancingan
Pengembangannya dilakukan dengan cara menyediakan kolam khusus pemancingan.
- Arena permainan anak – anak
Pengembangannya dilakukan dengan cara memperbaiki peralatan yang sudah rusak dan juga menambah peralatan bermain.
 Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam rangka pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di pentadio resort, maka Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo mengikutkan pegawai maupun karyawan pada pelatihan - pelatihan tentang kepariwisataan dan juga memberikan pembimbingan terhadap pegawai / karyawan yang bekerja di obyek wisata pentadio resort. Pelatihan ini bertujuan untuk menjadikan karyawan sebagai tenaga – tenaga profesional.
 Strategi pemasaran dan pengembangan produk wisata.
Untuk menarik perhatian para wisatawan, strategi pemasaran dan pengembangan dilakukan dengan cara mengembangkan berbagai macam produk wisata seperti pelayanan terhadap para wisatawan yaitu Aksebilitas yaitu kemudahan dalam memperoleh atau mencapai tujuan wisata seperti organisasi kepariwisataan (travel agent), bagi pengunjung yang baru dipandu untuk menuju obyek wisata dan Amenities yaitu fasilitas untuk memperoleh kesenangan, dalam hal ini dapat berbentuk akomodasi, kebersihan dan keramahtamahan.
b. Tahun 2004 jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 38.418 orang, hal ini disebabkan karena tahun 2004 adalah awal berdirinya pentadio resort Kabupaten Gorontalo, sehingga wisatawan tertarik untuk berkunjung ketempat ini. Selanjutnya pada tahun 2005 jumlah kunjungan meningkat yakni sebanyak 44.017 orang hal ini disebabkan karena wisatawan ingin berkunjung untuk melihat fasilitas yang dibangun walaupun belum secara keseluruhan dapat difungsikan. Pada tahun 2006 tingakat kunjungan wisatawan menurun menjadi 10.266 orang hal ini disebabkan karena wisatawan domestik maupun mancanegara sudah mulai jenuh untuk berkunjung ke gorontalo khususnya pentadio resort karena dengan berbagai kebijakan yang diambil seperti dalam hal penggunaan fasilitas yang ada di dalam pentadio resort dikenakan biaya yang mahal. Pada tahun 2007 jumlah kunjungan wisatawan naik sebanyak 12.535 orang, hal ini disebabkan karena fasilitas yang ada sudah banyak difungsikan. Pada tahun 2008 tingkat kunjungan wisatawan menurun yakni 12.337, hal ini disebabkan banyaknya tempat - tempat wisata yang sejenis, dimana orang berfikir bahwa untuk apa jauh-jauh ketempat wisata yang lain, sedangkan ada tempat wisata yang sejenis yang dekat dengan tempat tinggal.
c. Prospek tingkat kunjungan wisatawan 5 (lima) tahun mendatang
Dengan melihat hasil analisis tingkat kunjungan wisatawan di pentadio resort 5 tahun kedepan yang mengalami penurunan, Dimana tahun 2009 tingkat kunjungan wisatawan di pentadio resort diramalkan akan mengalami penurunan sebanyak 1.578, tahun 2010 kunjungan wisatawan akan mengalami penurunan sebanyak 9.943 orang, tahun 2011 tingkat kunjungan diramalkan akan turun sebanyak 18.307 orang kemudian pada tahun 2012 akan turun sebanyak 26.671 orang dan untuk tahun 2013 diramalkan menurun menjadi 35.036. berarti bahwa pengembangan untuk prospek kedepan harus dapat ditingkatkan. Ramalan peningkatan tingkat kunjungan wisatawan dipentadio resort Kabupaten Gorontalo untuk kurun waktu yang akan datang dapat dicapai apabila :
1) Melakukan promosi dan kerjasama dengan pihak swasta dalam hal pemasaran dan pengembangan obyek wisata;
2) Adanya jaminan pelayanan yang baik dalam hal peranan pengelola obyek wisata pentadio resort, harus bersikap ramah dan memenuhi kebutuhan para wisatawan;
3) Jaminan pemeliharaan dan perawatan segala sarana dan prasarana yang dapat menunjang para wisatawan yang berkunjung di obyek wisata pentadio resort dan mempertahankan agar pengunjung dapat merasa betah untuk berlama-lama di obyek wisata pentadio resort.
4) Adanya kemudahan bagi para investor baik dari segi aturan dan kebijakan maupun dalam pembebanan biaya pengelolaan serta memberikan kesempatan dan kebebasan kepada investor untuk melakukan berbagai upaya inovatif demi kemajuan obyek wisata Pentadio Resort.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap masalah maka dapat ditarik beberapa simpulan yaitu :
1. Bahwa tingkat kunjungan wisatawan mengalami penurunan, dimana jumlah pengunjung tertinggi pada tahun 2005 (44.017 orang) dan terendah pada tahun 2006 (10.266 orang). Hal ini disebabkan oleh karena keterbatasan pemerintah daerah dalam hal ini dinas pariwisata, kebudayan, komunikasi dan informatika sebagai pengelola dalam hal pendanaan, sumber daya manusia serta belum adanya kerjasama dengan pihak swasta.
2. Prospek tingkat kunjungan wisatawan di pentadio resort Kabupaten Gorontalo dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang diramalkan akan terjadi trend penurunan rata-rata 8.364,4 kali setiap tahunnya. Hal tersebut didasarkan pada kondisi saat ini dimana pengelolaanya masih oleh pemerintah.
B. Saran
Pentadio resort adalah salah satu obyek wisata andalan Provinsi Gorontalo khususnya Kabupaten Goronalo, maka untuk dapat lebih meningkatkan pamornya serta untuk lebih menarik minat wisatawan untuk berkunjung, pemerintah diharapkan :
1. Dapat melakukan upaya-upaya konkrit dalam mempromosikan obyek wisata tersebut baik melalui media-media maupun melalui kerjasama dengan biro-biro perjalanan wisata di Indonesia.
2. Dapat bekerjasama dengan pihak swasta dalam pengelolaan obyek wisata tersebut atau bahkan dapat memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk mengelola obyek wisata pentadio resort dengan lebih profesional.
3. Memberikan kemudahan-kemudahan kepada pihak swasta baik dari segi perijinan, pajak maupun kebebasan untuk berinovasi.
4. Bagi masyarakat diharapkan dapat menjaga kelestarian obyek wisata serta dapat berpartisipasi dalam hal pengembangan obyek wisata agar dapat meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan.










ANALISIS STRATEGI PEMASARAN DAN PENGEMBANGAN OBYEK WISATA ( THE TOURISM OF DEVELOPMENT ) TERHADAP TINGKAT KUNJUNGAN WISATAWAN
DI PENTADIO RESORT
KABUPATEN GORONTALO








(Studi Kasus di Kabupaten Gorontalo)
OLEH
KELOMPOK I
MEIKEL POGALAD, SKM Dr. SILVANA SONDAK EDWIN NANI, SKM
MOHAMAD K. YUNUS, SKM Dr. YENNY UTIARAHMAN TRIYANTI HUNOWU, SKM
MOH. SYARIEF HIDA, SKM ANENG, SKM R. BUDIONO SUTODJO, SKM
SUDIRMAN ADU, S.Pd,SKM HALIMA PODUNGGE, SKM YUSRIANTO UTINA, S.Pd
HARSON AHUDULU, SKM

DOSEN
DR. PAULINE WIDYAWATI, MM, MMKES
PROGRAM PASCA SARJANAMAGISTER MANAJEMEN
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN ”IMNI” JAKARTA

INSTITUT MANAJEMEN NASIONAL INDONESIA
GORONTALO
2009
DAFTAR PUSTAKA


Assauri Sofian, 2002, Manajemen Pemasaran, cetakan ketujuh, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Arsyad Lincolin, 2001, Marketing, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Assael H, 2000, Manajemen Pemasaran, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Boyld, Walker, Larreche, 2000, Retail Modern Market”, Penerbit PT. Pustaka Utama, Jakarta.

Haward, 2001, The Political Economy of Japanes Distant Fisheries

Kodyat, H. 2003, Kamus Parawisata dan perhotelan, PT. Pustaka Binawan Presindo

Kotler, Kevinlane, 2000, Manajemen Pemasaran (Analisis Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian). Jilid I, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta

Marpaung, Bahar, 2000, Pengantar Ilmu Pariwisata, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

Mason, Poewarto, 2000, Manajemen Pariwisata, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

Nanawi, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia, PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Pendit S, 2003, Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Sederhana, PT. Pradnya Paramita, Jakarta

Radiosunu, 2001, Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis, Edisi Kedua, Penerbit BPFE, Yogyakarta

Swastha, Handoko T. Hani, 2000, Manajemen Pemasaran (Analisa Perilaku Konsumen, Edisi Pertama Penerbit BPFE, Yogyakarta

Supranto, 2001, Riset Pemasaran, Penerbit BPFE, Yogyakarta

Stanton, 2001, Prinsip Pemasaran, Jilid 1 edisi ke 7, PT. Damar Mulia Pustaka

Stanton, 2002, Fundamental of Marketing, PT. Damar Mulia Pustaka

Siswanto, 2001, Manajemen Pemasaran, PT. Pustaka Binawan Presindo

Sumarni, Murti, Soeprianto, John. 2002, Pengantar Bisnis ( Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan, Edsi ke 5 Penerbit Liberti, Yogyakarata

Sung, Mappi, 2001, Cakrawala Pariwisata, Sucitra Pustaka, Jakarta

Soekapijo, R.S, 2002, Anatomi Pariwisata, Jakarta Gramedia.

Spillanne, James J, 2001, Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya”. Yogyakarta Kanisius

Siagian, 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia, PT. Bumi aksara Jakarta.

Stewart, 2002, Marketing, Penerbit PT Alex Media Komputindo, Jakarta

Suwantoro, 2007, Pariwiwisata, Edisi Pertama Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta

Umar, 2005, Manajemen Sumbaer Daya Manusia, PT Bumi Aksara Jakarta.

Wahab S, 2002, Manajemen Keparawisataan, Penerbit PT. Paradnya Paramida, Jakarta

Yoeti, 2000, Tours And Travel Manajemen, Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta

Yoeti, 2001, Pengantar Ilmu Pariwisata, Penerbit Angkasa, Bandung

Yoeti, 2002, Perencanaan dan pengembangan Pariwisata, Cetakan pertama Pradnya Paramita, Jakarata













DAFTAR ISI
Halaman
BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Masalah Pokok 3
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 4
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ..... 5
A. Pengertian Manajemen Pemasaran 5
B. Pengertian Pemasaran 9
C. Pengertian Pariwisata 12
D. PengertianKepariwisataan.......................................................................... 15
E. Pengertian Obyek dan Daya Tarik Wisata.................................................. 16
F. Pengertian Wisatawan................................................................................. 17
G. Pengembangan Obyek Wisata (The Tourism Of Development)…………. 17
BAB III : KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS 22
A. Kerangka Konseptual 22
B. Hipotesis 24
BAB IV : METODE PENELITIAN..................... 25
A. Obyek Penelitian......................................................................................... 25
B. Identifikasi Variabel dan Devinisi Operasional Variabel........................... 25
C. Metode Pengumpulan Data………………………………………………. 26
D. Jenis dan Sumber Data…………………………………………………… 26
E. Metode Analisis………………………………………………………….. 27
BAB V : ANALISA DAN PEMBAHASAN......................................................... 31
A. Hasil Penelitian................................................................................. 31
B. Pembahasan........................................................................................... 42
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN............................................................... 47
A. Kesimpulan................................................................................................. 47
B. Saran........................................................................................................... 47
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar